
Oleh. Muhadam
IRAN dengan semua kekhasannya; keterisolasian ekonomi, keterasingannya dari Arab, serta keminoritasan dari Syiahnya kini eksis. Apa yang membuat Iran bisa bertahan lebih dari 30 hari berperang melawan kekuatan Zionis Israel dan Adikuasa Amerika? Iran bahkan dapat bertahan 60 hari, meruntuhkan prediksi Amerika yang hanya 3-4 hari.
Satu hipotesis yang perlu diuji adalah kemampuan Iran melakukan nation and character building. Satu gagasan yang pernah dikembangkan Soekarno sebagai road map menuju Indonesia berdaulat politik, berdikari ekonomi, serta berkepribadian dalam budaya (Trisakti).
Nation and character building dimaknai bukan sekedar membangun fisik negara seperti jalan tol, jembatan, dan bandara, tapi lebih pada pembentukan karakter bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berkepribadian ala Indonesia. Bukan ala Barat, Arab, India, apalagi China.
Ide itu bertujuan agar bangsa berdiri kokoh, antikolonial, dan memiliki kebanggaan nasional. Apesnya, gagasan itu kehilangan kompatibilitas hingga tiba di pelupuk mata Jokowi. Ia mendaur-ulang menjadi Nawacita. Produknya, mengulang kembali apa yang selama ini menjadi antitesa Orde Baru; korupsi, kolusi dan nepotisme.
Mungkinkah Indonesia Emas (2045) adalah road map bagi masa depan Indonesia? Tentu saja perlu dicermari lewat Asthacita yang dikembangkan dewasa ini. Iran membangun peta jalan selama 47 tahun pasca embargo. Dilakukan di tengah keterisolasian hingga tangguh secara politik, ekonomi dan budaya.
Kita ingat Jepang. Pasca bom atom Agustus 1945, mereka hanya butuh 10 tahun merapikan reruntuhan Nagasaki dan Hiroshima. Kurang dari 40 tahun, Jepang mampu mengembalikan kedua lokasi itu menjadi ruang hidup bagi populasi yang sama sebelum perang dimulai. Restorasi Meiji menjadi road map.
Dengan semua pengetahuan yang dimiliki, Jepang membuat mobil sederhana dan murah buat konsumsi dunia. Toyota, Honda, Suzuki, Yamaha, Mitsubitshi menguasai jalanan. Jepang menjadi raksasa ekonomi, berdaulat kembali, tanpa melupakan spirit Kesatria Samurai dan Bushido.
Apa yang dilakukan Jepang dengan membongkar keterisolasiannya menjadi contoh bagi Deng Xioping. China melakukan reformasi dan keterbukaan (1978). Hasilnya, ekonomi tumbuh 10%, menyuapi 1,4 milyar penduduk, menyisakan 166 juta kemiskinan ekstrem dari sekitar 700 juta penduduk miskin dalam rentang waktu relatif singkat.
Produk China merambah dunia. Ekonomi barat terjun bebas, kewalahan menghalau ekspansi China menguasai pasar. Kini, China berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian menurut budayanya, tak peduli dengan Kucing Hitam vs Kucing Putih sepanjang mampu menangkap tikus.
Korsel nunut dibelakangnya. Sebagai salah satu negara termiskin di dunia, Park Chung Hae melakukan titik balik pada tahun 1961, 16 tahun pasca Indonesia merdeka. Hasilnya, bukan saja Samsung dan Huwaei, Kypop-nya menghantui generasi muda asia, tergeletak di sofa berjam-jam dihipnotis Drama Korea.
Korea Utara tak kalah. Dengan keterisolasian sebagai salah satu negara yang di kutuk Amerika selain Iran. Ia tak gentar mengembangkan diri di bawah mentor China dan Rusia. Terlepas kritik atas pola kepemimpinan otoriter dan kemiskinan, Korut acapkali memperlihatkan kemajuan teknologi nuklirnya.
Rwanda. Satu negara kecil di Afrika yang pernah hancur karena konflik, terisolasi oleh daratan kini merangkak seperti Singapura. Kagame hanya butuh 32 tahun menyulap Rwanda menjadi negara kota (Polis). Sejak 1994, Ia membangun dengan visi negara bersih (bersih jalan dan bersih korupsi).
Kini Rwanda menjadi kota terbersih di Afrika. Kagame punya visi hingga 2050 menjadi negara dengan penghasilan tertinggi di Afrika, infrastruktur jalan layak, serta sekolah gratis (internet plus laptop buat setiap siswa). Ia mengembangkan budaya gotong-royong sebagai identitas budaya kemandirian.
Pelajaran buat kita, saatnya membangun karakter bangsa agar tak bergantung pada negara lain. Dengan kemampuan diri dan sumber daya melimpah, selayaknya kita tak mudah diganggu secara politik, tak perlu mengemis secara ekonomi, dan tumbuh sebagai sebuah bangsa yang hidup di atas puspa ragam budaya.
Kita mulai dengan membangun integritas. Integritas akan melahirkan keberanian, tranparansi, akuntabilitas, etika, dan kompetensi. Dan Ia hanya akan berubah dengan cepat bila dimulai dari para pemimpinnya. Tanpa itu kesadaran kolektif tak akan muncul. Ia harus dimulai dari hulu agar menjadi cermin bagi kaum di hilir. Tanpa contoh, semua aturan hanya sia-sia.
Darimana dan bagaimana memulainya? Tentu saja dari diri sendiri, dari hal kecil dan dari sekarang. Institusi keluarga, pendidikan, organisasi masyarakat, serta keteladanan pemimpin menjadi penuntun pertama yang mesti diintervensi. Dia harus menjadi gerakan, bukan projek instan.
Dalam sepi isolasi itulah kita bisa berpikir jernih. Seperti kaum mullah yang membangun mentalitas spiritual rakyatnya. Kaum pendidik Iran yang tak hanya sibuk mengurus scopus, tapi menyepi di laboratorium mengembangkan teknologi mandiri, lalu menyatu di kabinet menjalankan pemerintahan berdasarkan keyakinan dan pengetahuan sains.
Politisi dan praktisi pemerintahan di Iran bukan spekulan ojek motor, bukan pemburu rente, bukan pengangguran, apalagi artis picisan. Mereka kaum terdidik, berpengalaman, berkesadaran sebagai anak bangsa, punya standar moral tinggi, hidup dalam kesederhanaan, serta berasal dari institusi pendidikan berkelas, bukan tanpa ijazah.
Buah semua itu, kita akan memiliki daya tawar secara politik, secara ekonomi tak mungkin dirampok lewat BOP, dan secara budaya tak melulu menjadi followers. Untuk sampai kesitu memang tak hanya menunggu kesadaran pemimpin, lebih dari itu kesadaran berjamaah untuk melakukan perubahan mentalitas sebagaimana Jepang, China, Korsel, dan Iran. Bersama kita bisa.

