Perang Iran dan Runtuhnya Mitos Polisi Dunia

Oleh: Dr. Riyan, M.Ag.

Selama puluhan tahun, Amerika Serikat membangun citra sebagai negara yang selalu tampil sebagai “penjaga perdamaian dunia”. Hampir setiap intervensi militernya dikemas dengan narasi yang sama: menjaga demokrasi, melawan terorisme, mempertahankan stabilitas, atau melindungi hak asasi manusia. Namun, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang jauh lebih mudah dimulai daripada diakhiri.

Apa yang kini terjadi dalam perang Amerika Serikat melawan Iran kembali membuktikan pelajaran lama tersebut. Yang menarik, kali ini penolakan paling keras justru datang dari dalam negeri Amerika sendiri.

Survei berbagai lembaga menunjukkan tingkat dukungan masyarakat terhadap perang Iran merosot sangat cepat. Bahkan, perang ini disebut sebagai salah satu konflik paling tidak populer dalam sejarah modern Amerika. Dalam waktu yang relatif singkat, tingkat penolakannya sudah menyamai kebencian publik terhadap Perang Vietnam yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik tersebut.

Fenomena ini patut dicermati. Sebab selama ini masyarakat Amerika cenderung memberikan dukungan pada fase awal setiap operasi militer pemerintahnya. Perang Afghanistan pasca-serangan 11 September misalnya, pernah memperoleh dukungan hampir 90 persen warga Amerika. Baru setelah bertahun-tahun, ketika biaya perang membengkak dan korban terus berjatuhan, dukungan itu mulai menghilang.

Berbeda dengan perang Iran. Bahkan ketika jumlah korban dari pihak Amerika masih relatif kecil, sentimen publik sudah berubah menjadi penolakan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Amerika mulai belajar dari pengalaman panjang perang-perang sebelumnya.

Pertanyaannya, mengapa perubahan itu bisa terjadi begitu cepat?

Jawabannya bukan semata-mata karena korban jiwa.

Masyarakat Amerika mulai menyadari bahwa setiap perang pada akhirnya akan kembali ke satu tempat: dompet mereka sendiri.

Ketika perang berkepanjangan, anggaran negara membengkak. Pengeluaran militer meningkat. Harga energi naik. Inflasi terdorong. Harga bahan bakar melonjak. Seluruh beban tersebut akhirnya ditanggung oleh masyarakat melalui pajak yang lebih besar dan biaya hidup yang semakin mahal.

Di sinilah perang kehilangan romantismenya.

Di atas meja diplomasi, perang sering dibungkus dengan slogan patriotisme. Tetapi di dapur keluarga Amerika, perang hadir dalam bentuk harga bensin yang naik, biaya logistik yang membengkak, dan daya beli yang terus menurun.

Itulah sebabnya survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga Amerika kini lebih mengkhawatirkan biaya hidup daripada kemenangan militer.

Realitas ini memperlihatkan satu hal penting: sekalipun Amerika adalah negara adidaya, ia tetap tidak mampu melepaskan diri dari hukum ekonomi. Tidak ada perang yang murah. Tidak ada konflik yang bebas biaya. Dan semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan politik terhadap pemerintah yang menjalankannya.

Donald Trump kini menghadapi dilema klasik yang pernah dialami banyak pendahulunya.

Jika perang dihentikan tanpa hasil yang jelas, ia akan dianggap gagal. Namun jika perang diteruskan, biaya politik dan ekonomi akan terus meningkat. Dalam ilmu politik, situasi seperti ini dikenal sebagai strategic trap, yaitu ketika setiap pilihan sama-sama membawa risiko besar.

Tidak mengherankan apabila sebagian pengamat mulai membandingkan situasi ini dengan Perang Vietnam.

Vietnam menjadi simbol bagaimana negara adidaya dapat terjebak dalam konflik yang tidak memiliki jalan keluar yang jelas. Amerika memenangkan banyak pertempuran, tetapi kehilangan dukungan rakyatnya sendiri. Pada akhirnya, legitimasi politik di dalam negeri runtuh lebih dahulu daripada kekuatan militernya.

Apakah perang Iran akan mengulang sejarah tersebut?

Belum tentu. Tetapi tanda-tanda ke arah sana mulai terlihat.

Yang menarik, perang ini juga memperlihatkan perubahan konfigurasi geopolitik dunia. Amerika tidak lagi memiliki ruang gerak seluas beberapa dekade lalu. Rusia masih menjadi kekuatan militer yang harus diperhitungkan. China memiliki pengaruh ekonomi yang semakin besar. Iran sendiri bukan lagi negara yang dapat ditekan dengan mudah seperti beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Artinya, dunia sedang bergerak menuju keseimbangan baru. Hegemoni tunggal Amerika perlahan mengalami erosi.

Namun, bagi dunia Islam, perubahan ini seharusnya tidak menimbulkan euforia yang berlebihan.

Sebab konflik antara Amerika dan Iran bukanlah pertarungan antara keadilan melawan kezaliman. Ini adalah pertarungan kepentingan geopolitik yang masing-masing digerakkan oleh agenda nasionalnya sendiri.

Yang paling sering menjadi korban justru masyarakat sipil.

Ketika rudal diluncurkan, yang hancur bukan hanya instalasi militer. Aktivitas ekonomi lumpuh. Jalur perdagangan terganggu. Harga energi dunia melonjak. Ketidakstabilan regional meningkat. Dan dampaknya dirasakan hingga negara-negara yang sama sekali tidak terlibat dalam peperangan.

Karena itu, perang modern sesungguhnya tidak pernah benar-benar bersifat lokal. Ia selalu menghasilkan efek domino yang melintasi batas negara.

Dalam perspektif Islam, perang bukanlah instrumen politik yang digunakan untuk memperluas pengaruh atau mempertahankan dominasi ekonomi. Islam menempatkan peperangan sebagai jalan terakhir yang hanya dibenarkan dalam kondisi tertentu dan diikat oleh aturan-aturan moral yang sangat ketat. Tujuan utamanya bukan memperbesar kekuasaan, melainkan menjaga keadilan dan menghilangkan kezaliman.

Inilah perbedaan mendasar dengan logika politik internasional modern yang sering kali menjadikan perang sebagai instrumen untuk mempertahankan kepentingan strategis suatu negara.

Pada akhirnya, meningkatnya penolakan rakyat Amerika terhadap perang Iran memberikan pelajaran penting bagi dunia. Sebesar apa pun kekuatan militer sebuah negara, legitimasi politik tetap bersumber dari rakyatnya. Ketika masyarakat mulai merasa bahwa perang lebih banyak menghadirkan beban daripada manfaat, maka dukungan terhadap penguasa akan perlahan terkikis.

Dan sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa sebuah negara adidaya tidak selalu runtuh karena dikalahkan musuh di medan perang. Sering kali, ia melemah karena kehilangan kepercayaan rakyatnya sendiri.

Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari perang Iran hari ini: bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat di medan tempur, tetapi tentang siapa yang mampu mempertahankan legitimasi ketika harga sebuah perang akhirnya harus dibayar oleh rakyatnya sendiri.

Scroll to Top