Tamparan dari Seoul untuk Meritokrasi Pendidikan Kita

Dr Susetya Herawati, ST, MSi
Penggiat Ranah Tata Nilai Aliansi Kebangsaan

Korea Selatan baru saja menampar kita semua lewat Netflix. Judulnya: Teach You a Lesson. Sebuah negara maju berani memproduksi cerita sekeras ini. Cerita tentang Biro Perlindungan Hak Pendidikan yang dibentuk pemerintah untuk menyusup ke sekolah-sekolah yang sudah mati rasa. Di sana, perundungan telah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Wibawa guru melemah. Orang tua kerap bertindak represif. Murid merasa berada di atas segala aturan.

Mengapa negara berani memproduksi narasi sekeras itu? Karena mereka memilih kejujuran, meski menyakitkan. Mereka mengakui bahwa pendidikan sedang dalam keadaan darurat. Dan dalam keadaan darurat, diam adalah bentuk pengkhianatan. Karena itu, mereka memilih menyadarkan bangsanya melalui karya budaya, bukan dengan menutupinya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Kita juga punya luka yang sama. Tapi luka kita lebih busuk. Kita terjebak dalam paradoks meritokrasi yang kita ciptakan sendiri. Kita lupa bertanya: meritokrasi pendidikan ini dibangun untuk siapa? Untuk memuliakan ilmu, atau untuk meneguhkan status?

Pada idealnya, meritokrasi adalah lawan dari nepotisme. Ia adalah janji bahwa yang menang adalah yang bekerja keras, berprestasi, dan berkompetensi. Tapi lihatlah praktik kita hari ini.

Merit telah direduksi. Menjadi angka di rapor. Menjadi gelar di belakang nama. Menjadi sertifikasi di dinding. Menjadi jabatan di kartu nama. Gelar menjadi satu-satunya ukuran otoritas. Status akademik menjadi satu-satunya legitimasi sosial. Sementara pertanyaan paling esensial justru kita kubur dalam-dalam: apakah ilmu itu mengubah watak? Apakah ia membuat manusia lebih beradab?

Paradoksnya semakin kejam ketika akses, jejaring, dan citra menjadi mata uang baru. Anak dari keluarga terpandang lebih mudah dipromosikan. Dosen dengan relasi politik lebih cepat naik jabatan. Peneliti yang pandai membangun narasi di media sosial lebih cepat dianggap “hebat” daripada mereka yang bertahun-tahun bekerja senyap di laboratorium atau di ruang kelas. Substansi bisa kosong. Karya bisa ditiru. Integritas tidak bisa dibeli.

Kita sedang menciptakan generasi yang ahli dalam kompetisi simbolik, tetapi buta terhadap tanggung jawab moral. Kita mencetak manusia yang pandai menjual diri, tetapi tidak sanggup mengabdi. Hakikat pendidikan bukan mencetak manusia unggul di atas kertas. Ia lahir untuk satu tugas suci: membangun peradaban. Untuk memanusiakan manusia.

Di sinilah paradoksnya menelan kita. Sistem kita telah menjadi mesin yang lebih menghargai yang terlihat hebat, daripada yang sungguh memberi dampak. Seorang guru di pelosok yang dengan air mata dan ketulusan membentuk akhlak satu generasi, bisa jadi dianggap kurang “bernilai” dibanding mereka yang berlapis gelar doktor, tapi hatinya kering dari kontribusi nyata.

Ironisnya, sistem seperti itu tidak sedang mendidik. Ia sedang mendeformasi. Ia sedang mencetak manusia yang pintar mencari celah, bukan pintar mencari makna. Korea memberi kita cermin yang jernih. Mereka menunjukkan apa yang terjadi ketika wibawa pendidikan runtuh total. Kita tidak butuh Biro Perlindungan Hak Pendidikan dengan kekerasan. Tapi kita butuh keberanian yang sama persis dengan mereka: keberanian untuk membongkar dan mengembalikan definisi merit itu sendiri.

Merit tidak boleh lagi hanya berarti prestasi formal. Ia harus berarti integritas yang diuji, dedikasi yang diam-diam, ketulusan yang tidak butuh kamera, dan kebermanfaatan sosial yang bisa dirasakan rakyat kecil. Jika tidak, maka pendidikan kita hanya akan berhasil satu hal: menghasilkan orang-orang yang sukses, tetapi gagal total melahirkan manusia-manusia yang baik. Dan bangsa tanpa manusia baik, adalah bangsa yang sedang menunggu kehancurannya sendiri.

Pemerintah, sudah cukup sandiwara ini. Sudah cukup kita berpura-pura semuanya baik-baik saja. Sudah cukup kita mengukur martabat guru dari tumpukan sertifikasi, dan mengukur masa depan murid dari selembar ijazah. Saatnya kita menyadarkan bangsa ini. Saatnya kita mengakui dengan jujur. Bahwa ukuran tertinggi pendidikan bukan siapa yang paling tinggi statusnya, tetapi siapa yang paling besar manfaatnya bagi sesama.

Karena ingatlah: pendidikan tidak pernah dibangun untuk melayani status. Pendidikan dibangun untuk satu tujuan abadi. Memanusiakan manusia. Jika kita terlambat sadar, maka tamparan berikutnya tidak akan datang dari Seoul. Ia akan datang dari sejarah

Scroll to Top