Say No to Hypocrisy and Hypocritical Leaders: Jangan Menjadi Pribadi dan Pemimpin Munafiq: Refleksi dan Tinjauan Normatif untuk Bangsa Indonesia

Willi Ashadi, Dosen Hubungan Internasional UII & Mahasiswa S3 Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia

MUQODDIMAH

Belakangan ini, kita patut prihatin menyaksikan berbagai fenomena dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ketika kebohongan, pengingkaran janji, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap amanah seolah-olah semakin dianggap biasa. Fenomena ini tidak hanya dapat ditemukan di kalangan masyarakat umum, tetapi juga menjadi persoalan serius ketika melibatkan pemimpin dan aparatur pemerintah yang seharusnya menjadi teladan dalam kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Ada orang yang berbicara lantang tentang keadilan, tetapi tindakannya justru merugikan rakyat, ada juga yang berjanji memperjuangkan kepentingan masyarakat, tetapi setelah memperoleh kekuasaan justru mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bahkan ada pula yang menampilkan citra religius di hadapan publik, tetapi tidak mencerminkan nilai-nilai agama dalam perilakunya. Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, kita bukan hanya menghadapi krisis kepemimpinan, melainkan juga krisis moral dan spiritual. Sebab, jabatan tanpa kejujuran adalah sumber kerusakan, kekuasaan tanpa amanah adalah bentuk pengkhianatan, dan kesalehan yang hanya berhenti pada penampilan lahiriah tidak akan menyelamatkan seseorang dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Inilah ujian terberat bagi peradaban bangsa Indonesia. Penulis teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hikam:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ … فَيُضَيِّقُونَ عَلَى النَّاسِ

“Akan turun kepada umatku di akhir zaman nanti cobaan yang dahsyat dari pemimpin mereka, yang belum pernah terdengar cobaan yang lebih dahsyat dari itu, sehingga bumi yang luas terasa sempit bagi mereka karena dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman”.

Didalam Alqur’an Allah SWT mengingatkan bahwa ancaman dan hukuman bagi orang orang munafiq dan berbuat zhalim adalah Allah SWT murka dan akan melaknat mereka, dimasukan kedalam neraka dan mendapat azab yang kekal. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ

Artinya: “Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.”(At taubah: 68)

Dari ayat diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa kita diingatkan agar senantiasa menjauhkan diri dan tidak menjadi pribadi yang munafiq. Mengingat, banyak pribadi, tokoh masyarakat, public figur bahkan pemimpin sekarang baik mereka yang duduk di Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif berperilaku hipokrit atau munafiq.

MAKNA DAN CIRI ORANG MUNAFIQ

Secara Bahasa, munafiq terambil dari Bahasa arab yaitu nafaqo (nafaqa – yunafiqu – nifaqan– munafaqatan). Dalam kamus lisanul arab karya Ibnu Manzur, Frasa dan lafadz ini diambil dari istilah النَّافِقَاءُ (naafiqaa’), yaitu salah satu lubang tempat keluar atau bersembunyi bagi hewan yarbu’ (sejenis tikus padang pasir atau tikus gurun) yang mempunyai lebih dari satu lubang sehingga sulit dideteksi oleh teman atau lawannya. Jika hewan itu dikejar atau diserang dari satu lubang, ia akan segera lari dan keluar melalui lubang yang lain. Oleh karena itu orang munafiq dilustrasikan seperti tikus gurun yang sulit dideteksi, mewiliki wajah ganda dan keinginan yang berubah ubah serta akan mengikuti arus yang kuat dan menang. Inilah makna filosofi mengapa orang orang munafiq mencari keuntungan dan tidak tahu malu serta hanya memprioritaskan keinginannya pribadi dan tidak peduli orang disekitarnya. Poinnya adalah bagi orang munafiq memilki wajah ganda dan mereka memilki prinsip yang penting selamat dan mengikuti arah angin. Oleh karena itu, orang yang beriman tidak dianjurkan untuk berteman dengan orang yang memiliki kepribadian hipokrit atau munafiq. Seperti pepatah arab yang mengatakan:

Walaa khaira fii waddi imri’in mutalawwinin, idzaa ar-riihu maalat maala haitsu tamiilu.
(Tidak ada kebaikan dalam persahababan dengan orang yang plin-plan/bermuka dua; jika angin berembus ke suatu arah, dia ikut condong ke mana pun arah angin itu.

Secara kiasan, kalimat tersebut digunakan untuk menggambarkan orang yang oportunis, tidak pendirian, plin-plan, atau bermuka dua. Mereka adalah tipe orang yang selalu mengikuti ke mana arah keuntungan berada, ikut-ikutan mayoritas tanpa prinsip, atau hanya mendekat saat seseorang sedang berada di atas angin.  Selain itu dalam Islam, nifaq dapat diartikan sebagai perbuatan menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekafiran serta keburukan. Diistilahkan demikian kerana pelakunya masuk ke dalam agama Islam dari sebuah pintu dan keluar darinya melalui pintu lain.

Munafiq juga dapat dimaknai memperlihatkan perbuatan yang tidak selari dan sesuai dengan isi hati seseorang itu. Orang yang melakukan perbuatan nifaq disebut ‘Munafiq’. Nifaq atau kemunafikan adalah suatu sifat yang ada di dalam hati manusia dan tidak dapat diketahui oleh orang lain. Ada dua sifat nifaq iaitu Nifaq Besar dan Nifaq Kecil.

Untuk mengetahui seseorang tersebut berpotensi dan memiliki karakter munafiq, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan ciri cirinya sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang sangat popular yang menyebutkan bahwa ciri orang orang munafiq antara lain:

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘ Ash radhiallahu ‘anhuma bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat perkara, jika keempat2nya ada pada diri seseorang, maka dia adalah seorang munafiq tulen; namun apabila dari keempat itu hanya ada satu saja pada seseorang, maka dia hanya dikatakan mempunyai sifat nifaq sehingga ia meninggalkannya, iaitu jika diberi amanah ia berlaku khianat, jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mungkiri (tidak menepati) dan jika bertengkar (bertelagah) maka ia berbuat kecurangan (tidak mengikuti jalan yang benar lagi).” (Muttafaqun ‘alaih)

ANCAMAN DAN HUKUMAN ORANG MUNAFIQ

Orang yang melakukan perbuatan nifaq (kaum munafik) ini amat besar bahayanya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Oleh sebab itu Allah SWT menjanjikan azab dan siksa yang lebih berat dan pedih kepada kaum munafiq. Allah SWT bahkan memberikan ancaman yang sangat keras sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa’ [4]: 145, yang artinya bahwa “orang-orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka. Selain itu Allah SWT juga berfirman dalam surah At Taubah ayat 62-63:


يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ لِيُرْضُوْكُمْ وَاللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَحَقُّ اَنْ يُّرْضُوْهُ اِنْ كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ ٦٢ اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّهٗ مَنْ يُّحَادِدِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاَنَّ لَهٗ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيْهَاۗ ذٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيْمُ ٦٣

Artinya: “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah kepadamu (kaum muslim) dengan (nama) Allah untuk membuat kamu rida, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka (raih) keridaan-Nya jika mereka adalah orang-orang beriman. Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui bahwa siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya. Dia kekal di dalamnya. Itulah kehinaan yang besar.”

Tidak berhenti di situ, Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam hadis riwayat al-Tirmidzi tentang keadaan orang munafik ketika menghadapi pertanyaan dua malaikat di alam kubur. Orang tersebut menjawab bahwa ia hanya mengikuti apa yang dikatakan orang lain dan tidak mengetahui kebenarannya. Kemudian, bumi diperintahkan untuk menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya saling berhimpitan, dan ia terus mengalami siksaan itu sampai Allah membangkitkannya kembali. Hadis ini merupakan peringatan yang menggugah hati bahwa kemunafikan bukan perkara sepele. Perlu dicatat bahwa kehidupan yang dibangun di atas kepura-puraan dan ketidakjujuran dapat membawa konsekuensi yang sangat berat di akhirat. (HR. al-Tirmidzi, no. 1071, dengan penilaian hasan dalam sejumlah edisi dan takhrij)


KESIMPULAN

Pembahasan tentang pribadi dan pemimpin munafiq bukan dimaksudkan untuk menghakimi hati seseorang atau sembarangan memberikan label kepada pemimpin tertentu, melainkan untuk mengingatkan kita akan bahaya kemunafikan dan pentingnya menjaga amanah. Berbagai kasus di Indonesia seperti korupsi, manipulasi janji politik, penyalahgunaan jabatan, ketidakjujuran dalam menyampaikan informasi, serta sikap yang berbeda antara ucapan di hadapan publik dan tindakan di balik kekuasaan patut dijadikan bahan evaluasi moral. Setiap pemimpin hendaknya menyadari bahwa kekuasaan bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri, memperdaya rakyat, atau berlindung di balik citra kesalehan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Masyarakat pun perlu membangun keberanian untuk menegakkan kebenaran secara bijaksana, berdasarkan fakta, dan tanpa fitnah. Pada akhirnya, ukuran kemuliaan seorang pemimpin bukanlah seberapa indah ia berpidato, seberapa religius penampilannya, atau seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya, melainkan seberapa jujur ia berkata, seberapa teguh ia menepati janji, seberapa adil ia bertindak, dan seberapa sungguh-sungguh ia menjaga amanah. Sebab, manusia mungkin dapat menipu sesamanya untuk sementara waktu, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT. Wallahu A’lam Bish Shawab.

Scroll to Top