
Hasbi Aswar
Hubungan Internasional, UII, Yogyakarta.
Setelah menjadi ikon intelektual kritis dan berani selama periode pemerintahan Jokow, Rocky Gerung akhirnya masuk istana sebagai anggota anggota dewan pertimbangan presiden (Wantimpres). Meski banyak yang menyayangkan, ia beralasan bahwa, posisi dia di luar dan di dalam tidak akan berbeda. Akal sehat akan selalu ia bawa dan suarakan kepada presiden yang akan tiba dua detik sebelum kejadian di kuping Presiden.
Namun pertanyaannya, mampukah ia di tengah koalisi politik yang sangat kuat dan tentunya didukung oleh berbagai kelompok kepentingan yang kuat, entah itu parpol atau para pemodal. Atau jangan-jangan ia ditarik karena rezimnya lah yang ingin menggunakan ia demi merepresi akal sehat publik.
Selama ini publik sudah meraba, bahwa ketajaman Rocky sudah mulai tumpul di era Prabowo kecuali hanya menyasar para menteri, wakil presiden, dan mantan presiden Joko Widodo saja. Bahkan ia menjadi pendukung program-program Prabowo seperti MBG dan koperasi merah putih yang dianggap bagian dari realisasi program sosialistis ala Prabowo.
Meskipun demikian, kita coba berprasangka baik dulu dengan harapan saat Rocky di kekuasaan dia bisa semakin intens bertemu presiden dan suaranya yang lebih keras dan berpengaruh terhadap Presiden dibanding suara-suara kepentingan yang lain.
Hanya pertanyaannya sekali lagi, apakah akal sehat mampu mengalahkan nalar politik pragmatisme saat ini entah melalui kekuatan parpol, pemodal atau kelompok kepentingan lain yang selalu mengelilingi kekuasaan selama ini.
Soal MBG dan Koperasi merah putih ia sudah tidak bisa diharapkan, sebab Rocky sudah menjadi pembelanya meskipun masyarakat sipil banyak yang menolak.
Keberanian Rocky bisa diuji melalui putusan terbaru MK terkait ijazah SMA Gibran yang itu berpotensi mendeligitimasi posisinya sebagai Wapres. Kita menunggu bagaimana jurus dua detik itu bisa berpengaruh terhadap keputusan presiden.
Dalam kerangka yang lebih ideologis, Rocky menganggap kebijakan MBG adalah bagian dari realisasi gagasan sosialistik prabowo. Jika demikian, Rocky harusnya bisa mulai mendorong presiden untuk merestrukturasi pengelolaan politik ekonomi negara yang sangat neoliberal saat ini.
Konsistensi gagasan Rocky Gerung akan diuji dalam posisinya sebagai wantimpres. Kedekatan Rocky terhadap Prabowo harusnya menjadi alasan kuat ia bisa bersuara lantang keras sehingga hanya akal sehat yang mau didengarkan oleh rezim saat ini bukan kedunguan dari kelompok-kelompok kepentingan.
Kita coba beri kesempatan kepada Rocky untuk berjuang demi akal sehat yang selalu diperjuangkannya, apakah itu akan betul-betul tersampaikan atau sebaliknya keberadaan Rocky di dalam pemerintahan menjadikan akal sehat sebagai senjata untuk membungkam suara-suara kritis publik dengan melalui narasi abstrak dan sarkastik khas intelektual pembela rezim selama ini.

